Carissa Birth Story: benjolan di mata dan tongue tie

Selama di Rumah Sakit Bersalin

  • Cerita di hari H dilahirkan: benjolan di mata

Alhamdulillah Carissa lahir dengan anggota tubuh yang lengkap, berat yang cukup (walaupun terhitung mungil, 2.65kg), namun ada sedikit cerita yang membuat Mas Ewa harus membagi waktu antara saya dan bayi sewaktu proses kelahiran: ada benjolan kecil di mata. DSA kami tidak mau membuang waktu, beliau segera menghubungi dokter mata dan saat itu juga (sewaktu saya masih di ruang operasi), Carissa yang baru lahir dalam hitungan jam langsung dilakukan tes retina mata. Inilah alasan kenapa suami ngga banyak mendampingi saya setelah bayi dilahirkan di ruang pemulihan. Beliau harus menemani Carissa tes retina mata, bertemu dengan dokter mata dan membicarakan hasilnya. Suami tetap tenang sewaktu terima hasilnya, yang mana selain benjolan (ditulisnya hemangioma) ternyata ada flare (kilatan) di dalam mata yang dicurigai retinopathy. Reaksi saya? Dalam hati sebenernya mau menangis, sedih banget jangan ditanya, apalagi setelah saya browsing apa itu hemangioma dan retinopathy, tapi saya mencoba tenang karena melihat suami saya tenang. Saya tidak mau membuat hari mas Ewa lebih buruk dengan terus-terusan menangis dan minta dihibur. Karena diapun perlu dihibur.

IMG_1611

ada benjolan berwarna biru di bawah mata kanannya

Baik DSA dan dokter mata tidak berani mengobservasi terlalu dalam akan benjolan tersebut, tapi mereka merekomendasikan untuk membawa Carissa ke dokter mata anak di BEC (Bandung Eye Center). Dokter mata membantu membuat janji untuk bertemu Dokter Maya, spesialis dokter mata anak, yang baru bisa saya lakukan setelah keluar dari rumah Sakit.

  • Hari kedua di RS: semalaman nangis terus

Semalaman bayi lelap rooming in di kamar. Hari kedua inipun saya mulai belajar berjalan. Bedanya sama pas ngelahirin Nanu, jaman dulu step setelah SC adalah belajar duduk dulu, besoknya belajar jalan, lah jaman sekarang harus langsung jalan ke kamar mandi dan mandi sendiri kata suster. OMG :)) Proses saya ke jalan sih jangan ditanya ya, dibantu banget sama painkiller. Yang bikin bingung adalah si bayi yang dari sore sampai malam susah nyusu, seperti kesulitan latch on nenen, akhirnya bayi pun nangis terus ga berhenti. Kaya ngga kenyang2. Saya berusaha tenang walaupun ya tetep stress, ditambah perasaan sedih lihat benjolan di mata Carissa. Saya langsung berfikir jangan2 Carissa tongue tie. Saya tetep nyusuin bayi walaupun malam itu bener-bener malam paling melelahkan. Perut masih sakit, bayi nangis terus, walhasil saya ga bisa tidur, plus rooming in pula! Hahaha. RS tempat saya melahirkan memang sangat pro rooming in.

  • Hari ketiga di RS: frenotomy

Alhamdulillah jam 5 pagi bayi diambil suster untuk dimandikan, kesempatan ini saya pakai untuk tidur sebentar. Sekitar jam 7 pagi DSA datang dan sebelum saya cerita, beliau sudah duluan bilang “Ibu sepertinya bayinya tongue tie, dalam semalam beratnya turun 100g. Jadi kalau Ibu mau lebih lancar menyusuinya, harus di frenotomy. Frenotomy ini seperti ditindik bagian bawah lidahnya, setelah itu akan lebih lancar menyusuinya”. Dalam pikiran saya, apalagi ini. Kemarin benjolan, sekarang tongue tie, banyak banget yang buat saya sedih. Tapi saya percaya DSA saya, karena saya juga melihat langsung Carissa semalaman menangis ngga bisa nyusu. Akhirnya saya dan suami pun mengizinkan DSA untuk melakukan tindakan frenotomy. Prosesnya cepet, setelah frenotomy bayi dibawa ke kamar oleh DSA, langsung ditaruh di dada dan diminta untuk disusui, Alhamdulillah, langsung lancar nenennya.

  • Sepulangnya dari RS: bolak balik RS Mata

Sekitar seminggu setelah dilahirkan, saya dan Mas Ewa bolak balik RS Mata untuk mengecek benjolan dan juga flare di mata Carissa. Untuk benjolan sebenarnya dokter mata juga terlihat hati-hati dan bilang bahwa akan diobservasi dulu sampai 3 bulan kedepan. Beliau kasih obat tetes dan obat salep di benjolannya (yang saya browsing untuk mata bintitan) yang harus ditetes ke mata Carissa. Saya lupa dosisnya berapa kali sehari. Yang pasti tiap habis ditetesin, matanya selalu berair dan keluar belek/kotoran mata terus menerus. Sekitar lima harian ditetesin, kalau ngga salah, di suatu malam saya merasa benjolannya makin membesar. Diam-diam tanpa sepengetahuan suami, saya terus2an menangis karena ngga tega lihat Carissa. Bayi perempuan tapi ada benjolan di matanya dan besar… Saya merasa menyesal membawa Carissa ke dokter dan memberinya obat, yang menurut saya malam itu malah memperparah kondisi matanya. Saya nggak akan upload foto pas masih ada benjolan gede banget ini ya, karena saya gak tega, cuma bisa dilihat di foto diatas nah si benjolan itu bisa dua-tiga kali lipat besarnya daripada sebelumnya.

Keesokan harinya, bener2 besoknya setelah saya nangis2 menyesal bawa ke dokter, sewaktu bangun tidur, benjolan di mata itu mendadak HILANG. Iya, hilang, cuma menyisakan merah di kulit yang perlahan hilang jg siang harinya. Saya dan mas Ewa sampai nangis pas lihat benjolan itu ngga ada. Apalagi Carissa bangun langsung senyum. Alhamdulillah, terimakasih ya Allah. Tidak henti-hentinya saya dan suami bersyukur. Seketika saya merasa bahwa keputusan membawa ke dokter mata adalah keputusan tepat. Coba kalau kami terima saja diagnosa bahwa benjolannya itu tumor? Dan ngga melakukan apa2?

Untuk flare, beliau lakukan tes yang fungsinya untuk mengetahui apakah flare itu masih ada atau tidak dan sebahaya apa efeknya. Beliau merasa kemungkinan tidak ada retinopathy karena Carissa bukan bayi prematur. Proses tes nya adalah mata bayi ditetesi semacam obat yang bisa membuat bagian hitam di tengah bola matanya membesar, sehingga bisa dilihat jelas menggunakan kacamata dokter (kacamatanya khusus bentuknya besar kaya buat main games gitu – duh maaf ya ini penjelasannya kurang betul). Setiap habis tes mata saya nangis, karena lihat bayi yang baru satu minggu umurnya nangis2 entah kesakitan atau silau kena cahaya dari kacamata dokter. Alhamdulillah kesimpulan dokter, flarenya sudah hilang. Penglihatan Carissa normal dan tidak terganggu. Allahuakbar, terimakasih ya Allah.

 

 

Iklan

The Birth Story of Carissa: Part 2

lanjutan part 1 ya…

Mata saya terbuka dan saya masih berada di ruangan operasi. Beberapa tenaga medis terlihat tersenyum dan berkata “Sudah selesai ya Bu, operasinya. Selamat ya Bu..”

Saya sempet bingung karena tidak ada pemasangan gurita, karena saya inget banget waktu melahirkan Nanu langsung dipasang gurita setelah operasi selesai. Saya juga sempat mencari2 Mas Ewa di ruang operasi, tapi ngga ada. Saat itu saya pikir mungkin masih ngurus Carissa.

Suster pun membawa saya ke ruang pemulihan. Saya masih mikir ngga ada yang serius, sampai saya bingung kenapa suster bolak-balik ke ruangan saya dan saat menekan perut saya wajahnya terlihat tegang. Keluarga saya bergantian masuk ruang pemulihan, mengucapkan selamat atas kelahiran Carissa. Saya mulai merasa ada yang serius karena saya merasa sudah lama kok belum juga dibawa ke kamar ya? Bayi saya mana? Sampai akhirnya DSOG saya muncul dan berkata bahwa saya mengalami pendarahan karena pelengketan, jadi masih harus diobservasi di ruang pemulihan karena darah yang keluar masih banyak dan menggumpal. DSOG saya pun mengatakan bahwa saya tidak boleh menggunakan gurita sampai 40 hari kedepan, dia tidak menjelaskan alasannya kenapa, tapi saya rasa ada hubungannya dengan pendarahan. Sungguh ngga langsung pakai gurita itu menyiksa banget, karena saya merasa perut saya buyar kemana-mana tak tertahankan.ย DSOG saya orangnya baik dan lucu, jadi informasi serius disampaikan dengan pelan dan santai, supaya saya ngga tegang. Saya ngga hafal berapa lama saya di ruangan pemulihan, yang pasti di akhir saya merengek2 minta masuk kamar, karena saya pengen segera lihat bayi saya. Oh ya mas Ewa pun ngga bisa lama-lama di ruang pemulihan, alasannya nanti saya ceritakan di postingan setelah ini ya.

Alhamdulillah, pas adzan dzuhur saya diizinkan masuk ke kamar saya. Keluarga besar sudah berkumpul, namun Carissa baru diantarkan ke kamar sekitar jam 15.00. Saat itulah dalam kondisi masih kesakitan karena operasi SC, saya bisa menggendong dan menyusui langsung anak kedua saya. Alhamdulillah kolostrum keluar saat itu juga, ASI pun mengalir lancar. Malam itu, Carissa langsung bermalam di kamar (rooming-in) bersama saya, Mas Ewa, dan kakaknya, Nanu.

Putri kedua kami beri namaย Carissa Almashyra Fatwaย , yang artinya:

Carissa: Yang tersayang / Yang terkasih

Almashyra: Menyukai kebajikan / kemahsyuran

Fatwa: Nama ayahnya

Semoga, Carissa kami, tumbuh besar menjadi anak yang shalehah dan bisa bermanfaat bagi keluarga besar dan lingkungannya, aamiin..

The Birth Story of Carissa: part 1

Ceritanya bakalan panjang.. jadi dibagi 2 part aja ya..

Hari ini, tanggal 8 Februari 2018, bayi kecilku tepat berusia 10 bulan. Masih jelas dalam ingatan sekitar sepuluh bulan yang lalu, saat Carissa lahir ke dunia. Sejak awal Cica, panggilan kecil Carissa, lahir ke dunia, saya sudah berencana untuk menulis proses kelahirannya. Namun bulan berlalu, boro2 nulis pas kenaikan bulan, tiap naik bulan aja selalu kelewat. Jadi baru keinget kalau umur Cica nambah itu di tanggal 9 atau 10, bukan tanggal 8. ๐Ÿ˜† Kali ini pengen beresin untuk nulis cerita melahirkan Cica.

Cica lahir di usia kandungan 37w6d, jadi belum masuk 38w. Di hari Sabtu, 8 April 2017. Kalau diingat selama hamil Cica tidak ada keluhan atau kerepotan sama sekali. Alhamdulillah 9 bulan hamil tidak ada keluhan sama sekali. Cica dilahirkan dengan proses sc.

Kenapa SC?

Emang Keanu SC juga?

Kan bisa melahirkan VBAC (vaginal birth after caesar), karena jarak melahirkan sudah hampir 6 tahun?

Pertanyaan yang biasa dilontarkan orang tiap mendengar rencana saya melahirkan dengan sc.

Alasannya ya karena memang mentalnya tidak siap untuk VBAC, walaupun jaraknya sudah lama, tapi jujur saya tidak siap untuk VBAC. Suami yang tadinya sangat berharap saya coba VBAC pun akhirnya menyerahkan semua pada saya.

Tadinya pengen melahirkan hari Minggu, biar pas usia bayi 38w. Tapi jatuhnya di tanggal 9 April. Sementara saya ingin bayi lahir di tanggal 7 atau 8. Tanggal 7 sama dengan tanggal kelahiran ayahnya, tanggal 8 adalah angka yang saya suka. Akhirnya diputuskan memilih tanggal 8 April 2017.

Ada dua rumah sakit yang saya pertimbangkan untuk tempat melahirkan Carissa. Keduanya tempat DSOG saya praktek. Setelah survey dan timbang menimbang, akhirnya saya putuskan untuk melahirkan di Limijati. Karena saya merasa lebih nyaman disini. Dari mulai proses mendaftar sampai proses masuk ke dalam kamar, saya merasa nyaman dan lebih aman.

Karena operasi jatuh pada hari Sabtu pagi, saya masuk rumah sakit jumat malam, sekitar jam 18.00 sampai di rs. Setelah mengurus administrasi ini itu, langsung masuk ke dalam kamar dan diperiksa oleh dokter untuk proses operasi besok. Oh ya sebelum masuk RS saya keukeuh pengen makan steak dulu di Glosis, yang mana hal ini membuat saya sangat bersyukur, karena jadi tenaga ๐Ÿ˜†

Alhamdulillah saya bisa tidur nyenyak malamnya, walaupun dada berdebar2 saking excited nya mau ketemu dengan gadis kecilku. Jam 4 subuh saya sudah bangun, mandi dulu, pake make up tipis2, alis wajib dong ๐Ÿ˜†shalat subuh, dan menenangkan diri karena sejujurnya saya tegang banget. Tadinya saya dapat jadwal operasi ke 2 (dari total 4 operasi sc yang dijadwalkan ke dsog saya), namun mendadak katanya saya jadi yang pertama. Makin deg-degan lagi deh. Jam 5 pas saya sudah dibawa menuju ruang operasi. Bedanya kali ini adalah suami saya mendampingi proses operasinya. Dulu pas Nanu ngga ๐Ÿ˜†

Masuk ruang operasi, saya inget banget ruangannya dingin banget, ada dokter kandungan saya, Dr Tono Djuwantono, dr anastesi, dan beberapa tenaga medis. Tegang? Jangan ditanya. Saya takut banget, dzikir terus menerus, sampai akhirnya proses sc pun dimulai. Prosesnya sama kaya pas melahirkan Nanu, bius lokal, dan semua serba cepat. Kali ini saya dengar dengan jelas, suara tangisan bayi. Pas Nanu dulu, saya ngga merasa dengar suara tangisan bayi, padahal katanya keras banget. Tiba2 Mas Ewa yang tadinya ada di sebelah saya, mendadak ngga ada karena harus ikut dokter anak yang membawa bayi kecilku. Dokter anak hanya mengecek semua kesehatan bayi, menyelimutinya, dan membawanya ke atas badan saya. Dimulailah proses IMD. Saya masih ingat banget saya menangis terharu sewaktu Carissa ada di atas dada saya. Semua terasa berjalan mulus, sampai tiba-tiba saya merasa lemas sekali, dan sedikit merasa sakit, dan dokter anak saya teriak “dok ini ibunya udah pucet banget dok,” beliau pun mendekatkan Carissa ke dada saya dan berkata “ayo nak.. bantu bundamu nak”. Saya baru paham maksud dr Frecilia bahwa enyotan bayi bisa melancarkan kontraksi ibunya. Dokter anastesi pun menghampiri saya dan tiba2 saya tertidur.

bersambung ke part 2

Poor Milea :(

Semua pasti sedang demam Dilan saat ini. Ya, saya pun termasuk salah satunya. Haha. Menurut saya karakter Dilan cocok banget diperankan oleh Iqbaal, selain itu juga mungkin karena tipe cowok yang saya suka ya yang kaya Dilan. Sedikit bad boy (saya suka challenge!), cakep, dan yang paling utama bikin penasaran. Walhasil selesai nonton Dilan 1990 membuat saya beli kedua buku lanjutannya, Dilan 1991 dan Milea: Suara dari Dilan.

Di blog ini saya ngga mau bahas tentang film Dilan, tapi lebih pengen bahas ending dari hubungan Milea dan Dilan. Yang udah baca semua bukunya pasti tau endingnya gimana, ya mereka putus dan bukan putus baik-baik. Yang awalnya Dilan sibuk ngejar2 Milea, setelah putus jadi kebalik, Milea nya yang super berharap untuk balik lagi ke Dilan, dan itu ngga pernah terjadi, sehingga setelah menikah dengan orang lain pun Milea masih suka kebayang2 sosok Dilan. Waduh ๐Ÿ˜†

Saya pernah seperti Milea. Saking sayangnya jadi khawatir berlebihan. Saking sayangnya jadi terlalu posesif, ngatur segala hal. Sampai2 si Dilan kabur. Pergi. Ngga mau diurusin lagi. Dan ya sama persis kaya tokoh Dilan, ilfil. Padahal kan sebenernya niat kita baik ya? Niat kita karena sayang. Tapi laki-laki, apalagi sewaktu mereka lagi keluar jiwa adventure nya, lagi umur mateng-matengnya, ngga akan mau dikekang. Pilih pisah pasti daripada ditahan2, mau kaya gimana juga bentuk kita, tetep pilih pisah. Pernah baca quotes dari buku Chicken Soup, kalau kita terlalu mengekang pasangan, ibarat pasir yang digenggam terlalu kuat, lama2 akan hilang di sela2 jari kita. Saya lupa yang buat quotes siapa, dan maaf malas google juga. Yang pasti, saya inget banget bacanya di buku Chicken Soup.

Trus setelah mereka pergi, kita begging2 minta balik? Ya ngga akan pernah terjadi juga, apalagi kalau jiwa adventure nya masih nyala, ngga padam2. Biasanya laki2 udah keburu males kalau dikekang2, kecuali diapun tipe cowok yang suka ngekang ya.

Jadi lesson learned nya apa? Jangan terbiasa mengekang pasangan ๐Ÿ˜ฌ Apalagi kalau masih pacaran. Semakin kita mengekang, semakin dia pengen kabur ๐Ÿ˜† Dia asyik sama dunianya, kita juga harus asyik sama dunia kita. Jangan terlalu bergantung sama pacar, SEGIMANA PENTINGNYA DIA DI MATA KITA. Tumbuhin rasa percaya diri kita dan rasa percaya kita ke dia. Jadi si laki pun nyaman ada di sebelah kita. Ngga dikit2 “ngga boleh ini ngga boleh itu”

Nah kalau udah terjadi dan dia keburu jadi kaya Dilan gimana? Ilfil? Ngga ngajak balikan? Kalau dulu sih, saya akhirnya menerapkan semua trik yang ada di buku Why Men Marry Bitch. Pas lagi drop-dropnya kaya Milea, saya pesen buku di Amazon dan mempelajari buku itu buat menumbuhkan rasa percaya diri saya. Alhamdulillah loh, the book works like magic! Mas yang mirip Dilan itu pun kembali ke pelukan dan malah ngelamar segala. Pokoknya kalau lagi ngerasain drop down kaya Milea, saran aku selain mendekatkan diri sama Allah lewat shalat dan ngaji, coba baca buku itu deh. Berfaedah bener buat bikin cowo bisa ada feeling lagi sama kita.

Nah sekian sedikit cerita manis tentang pengalamanku bersama “Dilan”, yang tidak lain adalah suami saya sekarang. Walaupun kita pacaran di tahun 2000-an, tapi kurang lebih sama lah drama2nya Dilan sama Milea. Orang pacaran berantem, ribut, sama posesif kan udah makanan sehari2 anak muda zaman dulu.

Alhamdulillah di cerita Dilan versiku, Milea dan Dilan akhirnya menikah dan punya anak2 kecil yang lucu. Aduh, jangan pada sebel ya kok saya jd kaya ngaku-ngaku sebagai Milea ๐Ÿคฃ Nggaklah cantikan Vanesha Priscilia kemana2 ๐Ÿ˜† Sekian celotehan saya malam ini๐Ÿ˜

Mengejar Coldplay ke India: Part 1

Sapu2 debu dulu ahh… maklum rumah kami di dunia maya ini sudah lamaaaaa sekali didiemin. Sudah lama gak nulis, sekarang punya tekad minimal seminggu satu tulisan. Baiklah, dimulai dengan sharing tentang perjalanan menuju konser Coldplay di India yaaa….

Coldplay. Pasti akhir-akhir ini timeline teman-teman di social media lagi diisi sama nama band tersebut. Dari yang mulai sharing tentang proses beli tiket konsernya di Singapore yang buat sebagian orang gampang banget tapi buat sebagian lagi susahnya luar biasa; sampai foto-foto dan video dari teman atau saudara yang pergi ke benua Eropa atau Australia buat nonton konsernya di tahun 2016 ini. Alhamdulillah suami saya, Mas Ewa kemarin dapat kesempatan buat nonton konsernya di India, di acara Global Citizen yang man behind the show nya sendiri tiada lain tiada bukan frontman Coldplay sendiri, yakni Chris Martin. Anti mainstream banget ya nontonnya malah ke India, ahaha kebetulan rezekinya kesana dan dapetnya disana ya udah berangkat aja…

Sebelum cerita tentang konser di India nya, saya mau cerita tentang background kita sama band ini ya. Kita berdua, saya dan suami kebetulan bukan fans kemarin sore, hehe, tapi emang dari tahun 2005 sudah suka sama band ini, jadi bisa dibilang #fansgariskeras. Mas Ewa mungkin sebelum tahun 2005 udah dengerin Coldplay. Jadi ceritanya dulu di tahun 2005 pas kami masih pendekatan, Mas Ewa yang kebetulan gak suka banget sama selera musik R&B saya saat itu, tiap jalan ngedate naik mobil saya pasti bawa kaset Coldplay dan Dashboard Confessional. Waktu itu Coldplay lagi boomingnya album X&Y. Anyway saya sampai nemu loh kaset X&Y nya Mas Ewa pas beres-beres rumah hari Sabtu ini.

img_81641

Dulu sih saya ngga suka banget sama band ini. Bawain lagu kok lirik ma musiknya sedih-sedih terus, bikin desperate. Hahaha. Sampai dengerin X&Y pun masih kurang suka. Pernah denger temen nyeletuk, “kayanya kalo nonton Coldplay live dan denger mereka mainin Fix You, bisa-bisa gue nangis saking terharunya”. Di pikiran saya waktu itu: ah masa sih, lebay. Hahaha. Sampai suatu saat ada kesempatan mereka konser pas di Belanda, saya tetep ngga tertarik. Tapi Mas Ewa saat itu bilang, “Pergi dong buat aku, kalau kamu lihat, aku ngerasa ikut happy banget, seakan aku nonton juga”.

Tsaaahhh romantis banget ya pacar gue saat itu. Padahal dia pengen dibeliin kaosnya tuh ๐Ÿ˜€ Akhirnya karena dorongan Mas Ewa saya pun nonton konsernya di Rotterdam. Waktu itu Viva La Vida Tour, saya ngga terlalu hafal lagunya, kan belum suka bandnya. Cuma inget suka lagu Viva La Vida aja. Udah. Pas nonton konsernya…. freeze. Bagus. Banget. Sumpah. Keren. Definitely true entertainer. Chris Martin ramahnya luar biasa, enerjik, suaranya bagus, dan saat itu pas konser mereka udah ngeluarin raining confetti pas lagu Lovers In Japan, ada juga bola-bola beterbangan dan semua kekerenan yang mereka tampilkan di A Head Full of Dreams (AHFOD) world tour. Padahal itu tahun 2008 loh.

Semenjak nonton mereka live itu, saya jadi suka, ngefans, dan ngedengerin lagu-lagu Coldplay. Suatu saat mereka kembali konser di Belanda, tepatnya di Goffertpark Nijmegen. Saya pun pergi, nonton kedua kalinya  sama teman-teman kuliah. Mas Ewa masih belum ikut nonton, kan posisi di Indo. Hehe. Sungguh experience paling seru nonton di taman terbuka, kaya nonton Woodstock kali ya. Kita nonton pas bulan puasa, yang mana buat buka musti ngira-ngira aja udah jam buka belum. Mengingat disana ngga ada suara adzan. Coldplay nya keren? Jangan ditanya. Keren banget. Saya paling suka openingnya. Oh ya klik link ini untuk video konser mereka di Nijmegen. Full sepanjang konser dan HD version pada zamannya.

Impian saya sejak ngefans sama Coldplay adalah pengen Mas Ewa suatu saat nonton Coldplay juga, biar ngerti gimana kerennya konser band tersebut. Biar kita bisa ngobrol bareng bahas kekerenan band ini *lebay*. Dari saat Coldplay announce AHFOD world tour, saya coba cek jadwal yang pas untuk kami nonton. Waktu denger mereka mau ke Aussie, saya dan Mas Ewa memutuskan buat beli aja deh tiket konsernya di bulan Desember. Kita quality time pergi ke Aussie, nonton konsernya rencananya sama Keanu juga. Saya dapet tiketnya yang di Brisbane, untuk tiga orang, beli langsung ke promotor bukan lewat reseller. Lancar jaya, ngga ada cerita susah dapet tiket. Semua kami persiapkan matang-matang. Hotel untuk diinapi, persiapan visa dan lainnya, sampai di bulan Agustus kami dapat kejutan yakni SAYA HAMIL. ALHAMDULILLAH. Sebuah hadiah dari Allah SWT yang diluar dugaan. Cerita tentang kehamilan di postingan lain yaaa…

Singkat cerita, kehamilan membuat saya dan Mas Ewa memikirkan untuk lanjut gak ya pergi ke Aussienya. Semedi sekitar sebulanan, Mas Ewa pun ikhlas untuk melepas rencana kepergian ke Aussie. Melepas nonton konser Coldplay. Kehamilan ini terlalu berharga buat dijaga sambil lalu. Sebenarnya memang kami pasangan yang suka sekali dan terbiasa datang ke konser. Jadi tahu lah kurang lebih kira-kira berapa banyak energi yang dibutuhkan kalau mau konser. Dan pas konser di Aussie pun sebenarnya kandungan saya sudah 5 bulan, banyak teman bilang pergi saja kan kehamilannya umurnya pas buat liburan keluar negeri. Hanya saya dan Mas Ewa tetap merasa harus meminimalisir resiko terjadi sesuatu pada kehamilan saya, jadi diputuskan untuk tidak berangkat. Kalau saya kelupaan hamil terus jingkrak-jingkrak terus karena excited bagaimana? Hehe. Namanya aura nonton konser live kan kita tidak pernah tahu. Apalagi saya ngefans banget. Saya sendiri memaksa Mas Ewa untuk berangkat sendiri, ikhlas banget untuk Mas Ewa pergi, tapi ternyata pergi sendiri sendirian ke Aussie pun ngga gampang prosesnya. Akhirnya dengan berat hati kami lepas rencana ke Aussie.

Sampai pada suatu hari Mas Ewa sharing sama kakak iparnya, Teh Kiki yang kebetulan kerja sebagai executive di salah satu stasiun televisi yang saat ini menjadi stasiun televisi nomer 1 di Indonesia karena kesuksesannya memutarkan serial-serial India. Inget banget Mas Ewa sharing sekitar tanggal 5 November 2016. Teh Kiki tiba-tiba bilang bahwa tanggal 19 November nanti Coldplay konser di acara Global Citizen India, dan beliau dapat banyak tiket complimentary dari partner tv tersebut disana. “Tiketnya gampang banget, teteh udah pasti dapet”. Dua minggu lagi loh. Mendadak diajak nonton konser Coldplay. WOW.

gci_final_11-09-16_instagram

Sementara kalau saya buka webnya, untuk dapat tiket Global Citizen India saat itu sudah susah karena semua tiket komersil (vip dan vvip) sudah sold out, kalaupun mau tiket free harus ikut lucky draw yang mana sebelumnya harus sign petisi atau kampanye untuk program Global Citizen India. Alurnya bisa dilihat dibawah ini.

global-citizen-points-696x522

Ngga gampang yah, lihat bagannya juga udah males. Hahaha. Belum kenyataan kalau walaupun sudah sign petisi dan campain, tiket belum tentu di tangan. Teh Kiki menawarkan untuk pergi bertiga sama Marsha, ponakan Mas Ewa. Saya bilang ke Mas Ewa, PERGI yaaahhh kapan lagi ada kesempatan begini. Apalagi selain Coldplay ada JayZ dan Demi Lovato. Lumayan deh nonton artis-artis skala internasional. Keesokan harinya kami langsung menyerahkan semua berkas yang diperlukan buat visa India, visa diajukan siang hari melalui apply online, dan malamnya sudah dapat email dari kedutaan bahwa visa India GRANTED atau diapprove. Tinggal berangkat menuju Mumbai 2 minggu berikutnya!

……bersambung ya di Part 2

Mengejar Coldplay ke India: Part 2

Sekitar 4 hari sebelum keberangkatan ke India, keluar kabar kalau jadwal AHFOD Asian Tour sudah keluar. Coldplay mau mampir ke Singapore. Langsung labil lah jadi gak yaaa ke India nya. Tapi saya bilang sama Mas Ewa, mending India deh. Tanggal konser di Singapore masih lama, masih 1 April. India sudah depan mata. Tiket konser ada dan complimentary alias gratis, visa ke India sudah granted, tinggal issued tiket pesawat. Diputuskan deh akhirnya tetap jadi ke India nya. Saya sendiri walaupun tiket konser aman dan pasti dapat, akhirnya memutuskan untuk ngga ikut ke India, karena saya lebih mengutamakan kehamilan dan belum tega juga ninggalin Keanu di Indo sendirian. Kalau kata Teh Kiki sih, kan sudah pernah, jd sudah ngga harus penasaran lagi ya. Lebih baik menjaga adiknya Keanu di dalam perut. Bismillah,  Coldplay, here we come!!! *kata Mas Ewa, Teh Kiki, dan Marsha

Hari Kamis tanggal 17 November Mas Ewa, Teh Kiki, dan Marsha berangkat naik SQ ke Mumbai, India. Perjalanan kurang lebih 9 jam, belum termasuk transit di Singapore. Sampai Mumbai hari Jum’at tanggal 18 November, langsung jalan city tour. Kesan Mas Ewa selama disana katanya persis kaya di film-film aja. Bangunan kebanyakan warna coklat muda semua dan agak kumuh. Foto-foto selama di India menyusul ya karena memang masih di kamera. XD

Hari Sabtu, 19 November 2016, finally the day is come! Coldplay live in concert! Mas Ewa pakai kaos AHFOD tour yang duluan kita beli langsung dari web dan jalan menuju venue Global Citizen sekitar jam 2 siang waktu India. Kebetulan menurut info dari penyelenggara, jam 4 sore main gate sudah ditutup. Pintu masuknya dibedakan antara free ticket dan vvip ticket. Oh ya, Mas Ewa dapet complimentary vvip ticket. Yang mana deket banget sama panggung dan line tempat Chris Martin lari kesana kemari.

15095542_10154703089984715_6501640626146330226_n.jpg

Mas Ewa, Marsha, dan Teh Kiki

Dateng masih terang benderang begitu, belum berasa ya aura keseruan konsernya. Demi Lovato kebetulan tampil pas masih sore. Mas Ewa sempat post instagram story tapi ngga ngeshoot performancenya. Kebetulan doi emang ga suka dan ga paham lagunya juga. Sukanya sama Selena Gomez. Katanya kalau Selena Gomez yang tampil pasti dishoot dari awal sampai akhir. Hahaha.

Mas Ewa cerita katanya barikade ke kelas vip nya itu bukan ridging besi kaya konser di Indonesia, tapi cuma bambu – bambu. Surprisingly ngga ada tuh yang bobol konsernya. Hebat ya. Lalu katanya di vip itu ada privilege makanan dan minuman free flow di dalam ruang tunggunya. Jadi kalau nangkep dari cerita mas Ewa, dari gate ke arena konser itu ada tenda ruang tunggu yang isinya free flow makanan dan minuman, baru venue konser. Kalau browsing di internet sih nemu mapnya begini. Mungkin si bagian kotak Platinum itu yang isinya makan minuman. Haus dikit tinggal masuk kedalam dan ambil minuman katanya. Seru amat! Hehe.

venue_map_big.jpg

Mas Ewa, Teh Kiki dan Marsha ada di area platinum. Tiket di area ini kayanya memang cuma ditujukan untuk complimentary, jadi untuk media partner dan vvip. Alhamdulillah, rezeki Mas Ewa ya. Mana tiketnya gratis, Alhamdulillah alhamdulillah. Selama nunggu konser sampai JayZ selesai tampil, Mas Ewa masih sempet kirim video ke saya. Setelah itu udah byebye deh, keasyikan nonton Chris Martin kayanya, LOL. Besoknya baru kirim-kirim video dan foto-foto. Sempet ngeshoot Guy Berryman katanya spesial buat saya. Aaaaaa si kasep Guy. Haha. Oh ya maaf, belum bisa upload video karena belum upgrade plan wordpress. Video menyusul yaaaa… Saya post foto-foto Chris Martin hasil jepretan kakak ipar aja ya. Kebetulan karena lagi-lagi di vip class, kakak ipar boleh bawa kamera mirrorless.

Oh ya ini setlist yang dibawakan selama konser di India. Karena ngga terpaku AHFOD tour, mereka lebih banyak bawakan lagu-lagu lama. Mas Ewa malah lebih seneng karena kan emang udah ngefans dari dulu. Cuma kata Mas Ewa banyak yang nonton ngga begitu faham sama lagu lama-lama mereka. Ada 22 lagu yang mereka bawakan, kurang lebih sama kok dengan konser-konser di negara lain. Saya cek setlist mereka di Melbourne kemarin ada 24 lagu, cuma beda total 2 lagu, kurang lebih sama lah yaaa.

IMG_8172[1].JPG

Kesan suami setelah nonton Coldplay tentunya seneng dan puas banget, dreams do come true. Apalagi nontonnya dari depan banget. Pokoknya posisi nya deket banget sama Chris Martin. Ini summary konser Coldplay di Global Citizen India:

  • dekorasi stage sama, screen kanan kiri pakai screen AHFOD, bentuk bunga atau apalah itu hehehe. Stage line tempat Chris Martin lari dari stage ke tengah penonton juga sama, B stage nya juga ada. Bedanya big screen di tengah panggung bulat bukan persegi panjang, dan ada tulisan Global Citizen India diatas stage yang gede banget. Kalau AHFOD kan ngga ada.

global-citizen-festival_twitter-111

source: http://images.financialexpress.com/2016/11/Global-Citizen-Festival_Twitter-111.jpg

  • Opening dan ending konser sama-sama ada fireworks kaya AHFOD tour. Raining confetti, bola bola warna warni keluar pun sama persis. Permainan lightingnya pun sama persis. Ngga ada bedanya sama AHFOD tour.
  • Kostumnya Chris Martin sama kaya yang dipakai di AHFOD tour. Kata Mas Ewa bajunya kok gak ganti-ganti ya Bun tiap konser XD
  • Setlist semua sama, bedanya cuma di India banyak lagu-lagu lama, jadi gak melulu dari AHFOD album. Mas Ewa lebih suka sama kenyataan ini. Hahaha. Jumlah setlist pun kurang lebih sama banyaknya sama di negara lain.
  • Di India ngga dapet Xylobands, itu lhooo wristband yang bisa munculin suara dan lampu-lampu. Dapetnya wristband Global Citizen India. Ya mungkin karena ini kan bukan konser Coldplay doang. Tapi teteup ngga mengurangi ke-khusyu-an Mas Ewa nonton konsernya, apalagi doi nontonnya dari deket banget.
  • Dapet bonus lihat Demi Lovato dan Jay Z. Kebetulan Mas Ewa suka banget sama lagu Empire State of Mind nya JayZ
  • Konser di Brisbane atau Melbourne biasanya hanya 50,000 – 60,000 orang, di India ini yang nonton ada 100,000. Saya ngga bisa bayangin yang di belakang-belakang lihatnya gimana ya, kebayang jauh banget. Hehe.
  • Diatas kelas Mas Ewa katanya ada yang super vip. Kata Mas Ewa mereka yang super alias spesial ini bisa jalan di area media atau crew. Jadi ada anak-anak muda India yang bisa masuk area sini dan muter lihat konsernya dari dekat. Mungkin mereka anak seseorang, hehe.
  • Ini foto-foto capture an dari video yang Mas Ewa kirim. Maaf ya namanya capture an video ya jadi foto gak terlalu jelas, cuma ngelihatin bahwa posisi berdiri doi dekeeeeeet banget sama Mas Chris. Lucky him.

hasil screen shot dari video XD

Jadiiiii inilah penutup cerita konser Coldplay di India. Akhirnya kesampaian juga nonton Coldplay, thanks to Teh Kiki yang sudah kasih privilege tiket gratis untuk Mas Ewa dengan experience yang sungguh priceless. Pergi ke India, selain dapet konser Coldplay juga Mas Ewa dapet mesin motor dan tangki-tangki Royal Enfield. Double happiness ya Yah, no wonder Mas Ewa sangat puas.

Kesimpulannya, Mas Ewa puas banget, sangat – sangat puas. Waktu rame-rame pada beli tiket SG, saya tanya apa pengen nonton lagi yang di SG, kali pengen dapet true AHFOD tour experience, dijawabnya ga terlalu pengen karena udah puas dan perbedaannya juga gak signifikan cuma beda dapet wristband aja. Nyesel ngga gak jadi ke Aussie? Jawabannya ngga, karena experience India ini juga luar biasa. Kalau di Aussie mungkin kami cuma berdiri jauhhhhhhhh sejauh mata memandang ke stage, karena bisanya ya beli tiket yang itu bukan yang vip package atau standing deket stage. Sementara di India sudah mah dapet vvip ticket, bisa ngerasain nonton konser sambil sesekali bolak balik ke tenda ambil makan dan minum. Kaya siapa aja ya. Hehe. Belum pernah dapat privilege seperti ini sebelumnya. Sekali lagi, Alhamdulillah

Nah, kalau nanyanya ke saya gimana, pengen gak nonton AHFOD tour yang di SG, jawabannya PENGEN BANGET tapi nggak bisa karena sudah dekat hari perkiraan lahiran, hahaha. Ya sudahlah yaaa gak apa toh udah pernah juga nonton walaupun masih pas zaman Viva La Vida Tour. Singkat cerita, intinya kami berdua sudah kesampaian nonton Chris Martin and ganks live, Alhamdulillah. Penasarannya sudah kesampaian ya Yah. Sekian short story tentang pengalaman Mas Ewa nonton konser Coldplay, semoga berkenan dan suka sama tulisannya ya. Sampai ketemu di tulisan saya berikutnya ๐Ÿ™‚

part 1

An Anniversary Letter to My Husband

“Hai Wulaaannn”

Warram, 21 June 2005
That day, I still could not forget the moment when you called me out loud. That I was confused, because as far as I concerned we were not very close. To be precised, we contacted for once, when I met warram’s boys while eating at the mall, even that time you were a shy person as if you were too bored with me. You were a shy person. But that side is what made me curious, and at the same time confused later on because suddenly you become friendly.

I donโ€™t know why that conversation went smoothly, like we knew each other for long, whereas it was our first conversation. I still remember really with your talks that night which was actually full of rags, but I was nervous when you ask for my number.
Ewa: What is your phone number? (getting out a phone from your pocket)
Wulan: 08122787971
Ewa: Wait, my phone book is full. Calm down, I will erase one number for you.

If I recall, I was confused because I did not have something to say, I was shy. There’s a butterfly in my stomach. Actually, previously I was never into believing into love at the first sight. But when I met you that night, I suddenly felt that I must take back all the words. Yes, love at the first sight exists. And I felt that when I met you.

I really remember we did not get into the process of โ€œhitting on each otherโ€, all flew just like a water. After that night, suddenly we became Ewaโ€™s Wulan and Wulanโ€™s Ewa, that was how people called us. Our parents were confused, where we met, how could we be getting along, because they never heard of us getting to know each other. They were confused because we did not have the same school. Although you said that you like to go over my school to meet your friends who were actually my friends too, but the funny thing is that Iโ€™ve never seen you. We really just met twice at the place where you hang out, and suddenly inseparable. – with Fatwa

View on Path

Dealing With Bag Reseller (my version as written in femaledaily)

Hello semua.. mau sharing ya, pengalaman aku beli di reseller..
Selama kuliah di Belanda aku suka beli tas di ebay, dimana menurut aku lebih aman karena aku bisa authenticate dulu di TPF, lalu transaksi ditengahi sama paypal, sehingga suatu saat ketauan palsu, aku bisa minta refund (dengan bukti surat tertulis dari authenticator). Tapi mengingat skrg aku udah ga di Belanda lagi tp di Indo, dimana disini pajaknya suka ga kira2, aku ga berani lagi belanja di Ebay. Mulailah aku ngelirik reseller2 tas yang bertebaran di FB dan IG. Sebenarnya selama ini aku tuh ngga pernah tertarik beli di reseller Indo, dengan pemikiran aku suka takut kalau barang yang aku dapet palsu, mengingat di Indo ini barang kw bertebaran banyak banget ya… Sampai pada suatu saat aku tertarik ngeliat sebuah tas A di reseller B. Anyway, aku sengaja ga akan tulis detail tas yang aku beli dan nama resellernya ya, akan aku jelaskan kenapa nanti di akhir.

Aku beli sebuah tas di bulan Desember 2013 dengan konsep cod, jadi aku screening langsung tasnya, begitupun suamiku, dan kami berdua merasa bahwa itu asli krn dari baunya dan jg leathernya. Walaupun ini pengalaman pertama aku beli tas brand itu, dan aku pun tidak mengedukasi diri aku dulu sebelum transaksi, aku ngga ngecek apakah model itu ada atau tidak, aku main langsung deal krn harganya murah banget (under 5mio untuk leather), dengan alasan ini udah tas lama makannya murah, dan memang sih tas ini berasa banget sign of use nya alias udah terlihat tua. Sebelum aku transfer, aku tanya lewat WA ke resellernya apakah bisa refund kalau ternyata fake (karena aku akan meng-authenticate ke TPF) dan resellernya bilang bisa (aku mengcapture semua pembicaraan kita by whatsapp).

Beres terima tas itu, walaupun hati pengen buru2 pake, aku pilih buat difoto2 dulu, di authenticate ke TPF, baru deh aku pake setelah terbukti asli. Tiba2 terfikir aku pengen authenticate ke authenticator berbayar supaya lebih afdol, mengingat kadang reseller suka ngeles dan ga mau terima kalo cuma authenticate sebatas TPF doang. Aku pakai jasa authenticate4u, bayar sekitar 7.5 usd, kirim foto2 sedetail mungkin di akhir Desember 2013 (tas masih blm ku pake). Aku pun memutuskan udahlah ga usah di authenticate di TPF, karena pakai authenticator berbayar lebih jos kan tuhh…

Kebetulan authenticate4u ada masalah sama hosting web nya, jadi mereka bilang di FB bahwa semua request authenticate bag tertahan sampai kira2 pertengahan Januari. Selama itu pula si tas belum aku sentuh, krn aku ga mau pake kalo blm ada bukti memang tas itu asli. Iseng2 nunggu jawaban dari Authenticate4u, aku coba authenticate di TPF dan selang beberapa jam keluar jawaban yang bikin aku shock: 100% believe that this is fake. definitely fake. thank you for your great picture, it make us easier to judge that this bag is fake from modaqueen.

Stress ga sih bacanya? Walaupun nominal uangnya hanya under 5mio, tapi buat aku itu tetep uang. Tanpa nunggu balasan Authenticate4u akupun whatsapp reseller tersebut sambil deg2an, karena takut dia ga mau refund. Aku sampe blg: Mba, potong aja fee mba sebagai reseller dr uang yg udah ku transfer, yang penting 90% dr uangku kembali. Karena aku merasa si reseller ini baiiiikkk sekali dan sangat responsive di awal2 kita ngobrol, dan mungkin dia pun hanya sbg reseller, jd dia gak tau jg bahwa barangnya palsu. Dia pun menjawab bahwa dia kaget bahwa itu palsu, dan awalnya dia mempertanyakan kok bisa sih TPF judgje itu palsu padahal kan ga megang? Aku jawab mungkin seri tas tersebut memang ga pernah keluar, dan biar bagaimanapun aku akan stick sama keputusan TPF. Aku ga mau end up sama tas palsu berapapun harganya karena aku ga bisa jual lagi, apalagi di FD (double your money back, duhh jadi rugi bandar yaa hihi). Walaupun dari obrolan terlihat jelas bahwa dia merasa itu asli, krn katanya yang nitip jual ke dia ini barangnya selalu asli, tapi akhirnya dia mau refund dan ga pake debat2 kusir segala, dia bilang bahwa kalau mba ga yakin ya silahkan refund, saya ga mau kehilangan mba sbg customer juga. Detik kita whatsapp an itu juga, uang aku kembali utuh, dan besoknya kurir datang ambil tas tersebut.

Selang beberapa hari kemudian, email dari Authenticate4u masuk dan lagi2 NOT AUTHENTIC. Dan si reseller juga masih kontak aku dan blg: “mba, asal mba tau itu tas auth kok.. beli di Prada outlet..” ya dia masih keukeuh itu asli tp dengan lagi2 kata2 yang baik dan tidak menyerang. Walaupun udah ada bukti tertulis dari Authenticate4u aku ngga merasa perlu membalas dgn berdebat tp aku blg “oh gitu mbaa.. iya maaf ya mba tp sy masih ttp percaya sama TPF” dan dia pun membalasnya tetep ramah dan bilang “gpp kalo mba ga yakin.. jangan kapok ya mbak belanja ke saya”

Karena dia ramah itulah aku memutuskan ga nulis namanya disini dan juga tas yang aku beli, karena aku menghargai kerjaan dia jg sebagai reseller. Reseller jg bukan berarti full salah, bisa jadi mereka jg dikadalin orang yang nitip, menurut pandangan aku ya… Ilmu yang aku ambil dr sini ya aku ngerasa sbg buyer kita harus banyak2 educate diri sendiri dulu sblm tergiur sama harga atau produk yang dijual.. Lalu harus bener2 dealing with trusted reseller karena salah2 kita bisa2 kehilangan uang krn mostly reseller keukeuh barang mereka asli.. Reseller yang baik sih menurut aku ya kaya reseller yang aku dealing ini, mereka tetap bisa diajak diskusi dan ga tiba2 main block atau delete contact. Selain itu juga kalau dealing with reseller kitanya ga boleh males buat authenticate, baik di FD, TPF atau kalau ada budget lebih ya pake jasa authenticator seperti Carol Diva (untuk LV), mypoupette, etinceler (chanel), Authenticate4u, atau Fakespotter. Bener2 pelajaran buat aku, smg bisa jadi tambahan info buat FDers lainnya.

PG Special Day tema hari ini Rainy Day, soalnya tema bulan ini Air. Anak2 diminta bawa jas hujan. Biasanya yang jadi juru foto saya, mama Kiara, atau mama San. Eh saya ngga bisa karena ada meeting, Kiara sama San sakit, jd mamanya ga ke skul. Alhamdulillah ada yang mengabadikan walaupun dari belakang, makasih Teh Ullie๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ tapi jadi tau serunya special day rainy day sampe ada hujan buatan dari Miss Budi ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

#repathTehUllie – with Fatwa

View on Path